USU, Universitas Salah Urus. Benarkah ! Silahkan beri pendapat anda.

Universitas Sumatera Utara (USU) yang merupakan kebanggaan masyarakat Sumatera Utara khususnya dan Sumatera pada umumnya, Terlebih-lebih pada zaman dulu dimana belum banyak perguruan tinggi di Sumatera Sehingga masyarakat dari ujung Utara Aceh sampai ujung selatan Lampung bahkan dari negeri jiran Malaysia datang ke Medan untuk menimba ilmu di USU.

Namun sejak beberapa dasawarsa terakhir, katakanlah sejak tahun 70an nama USU mendapat predikat plesetan sebagai Universitas Salah Urus dan semakin tua usia USU predikat tersebut semakin nempel kental alias semakin cocok dan pas jika melihat apa yang terjadi disana, bagaimana kinerja personil pimpinan, pegawai yang mendominasi, siapa saja yang bisa menjadi dosen, dekan, rektor dan jabatan-jabatan lainnya di USU.

Pandangan ini sangat mantap dan jelas dilihat dengan kasat mata oleh mahasiswa, alumni dan pegawai USU yang memang bukan merupakan komunitas konspirasian sang juragan di USU. Gejala dan pengkondisian yang sangat tidak populis ini atau kalau boleh kita katakan pola pikir yang kerdil dan miskin wawasan ini telah menjalar bagai virus yang sangat kuat dan kental serta turun menurun beranak pinak (sejak zaman Manipol kaleee….) mulai dari pimpinan rektorat, dekan, lembaga pelayanan masyarakat, komunitas kemahasiswaan seperti BEM, ikatan-ikatan jurusan dll dan telah dirasukin oleh pemahaman bahwa yang boleh duduk disana hanya komunitas aku, walaupun kita sangat sedih bahwa kwalitas SDM yang ditempatkan disana sangat minim. Suatu konsep dan tradisi yang harus dirubah bila USU mau tampil di kompetisi lembaga pendidikan Nasional, apalagi di Internasional…hehehe ketinggalan kau kawan !. PT-PT lain bilang USU lho gak level ama gw, kacian deh lho….belum lagi dengan tumbuh bagai jamur PT swasta yang memiliki klasifikasi dunia Seperti UPH, Trisakti dll

Pendapat ini barangkali hanya pendapat dari penglihatan satu sisi penulis yang memiliki keterbatasan dalam menela’ah dari berbagai aspek. Nah untuk itu, mungkin ada prespek lain dari pembaca yang memiliki nalar analis dan deskripsi yang lebih baik dan rasional atau berbeda dengan penulis dan hal itu sah-sah saja.

Kesemuanya ini kita tujukan untuk bahan refleksi kondisi di masa lalu dan hal yang tidak baik dimasa lalu bisa dijadikan acuan kebijakan di masa depan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama sehingga menjadi lebih baik lagi/continuous improvement. Sehingga USU benar-benar menjadi Agen Perubahan (Change agent). Dan sesuatu akan diubah hanya jika yang bersangkutan menyadari penuh bahwa keadaan dirinya sekarang tidak relevan dengan tuntutan perubahan, lalu memiliki kemauan untuk menggapai sesuatu (Visi/goal) maka dengan sekuat tenaga, dia akan merubah keadaan dirinya agar bisa meraih cita-citanya.

Karena USU harus menyadari bahwa perubahan sekarang tidak hanya dituntut USU menjadi lembaga pendidikan yang profesional tetapi harus menjadi USU YANG MENDUNIA / GLOBALISASI baik dari sisi mutu, pelayanan dan image.

Selamat berkomentar ria.

Juwita PS

Moderator

25 Tanggapan

  1. banyak kampus yang mungkin salah urus di indonesia ini.
    sangat disayangkan,
    kampus adalah tempat penggemblengan calon-calon pemimpin bangsa,
    tempat bernaungnya agen-agen perubahan

  2. Banyak orang Sumatera Utara, Sukses luar biasa diluar Medan, apalagi orang Batak tapi jika lingkungannya tidak kondusif/mendukung, maka orang yang pintar jadi bego.

    Makanya kalau mau kita sukses, kita harus memilih-milih komunitas kita berkecimpung, ya di lingkungan orang sukseslah kita bergaul. Jangan jadi katak dalam tempurung.

    USU gak maju-maju karena hanya dipimpin oleh satu komunitas shg bawahan pada manut terus keatasan karena dia termakan jasa atasan yg mengangkat dia disitu. Jadi tidak tumbuh kreativitas dan inovasi-inovasi, iramanya hanya satu…..irama melayu.

    Coba malaysia atau Singapur ada Melayu, ada Cina, ada India, jadi iramanya variatif dan kompetitif shg ada semangat pegawai utk inovatif dan kreatif.

    USU…? kayak sudah menjadi milik nenek moyangnya Mandailing. Paling dipoles-poles dikit sama Melayu yang satu irama. ya tak maju-majulah kau !

  3. Bukannya Salah urus tuh bung, tapi USU itu memang manusia yang mengelolanya belum profesional dan belum memiliki sense of entreprenuership, Mereka berpikiir toh banyak masyarakat yang mau mengejar kuliah di USU.

    Mereka tak sadar bahwa bagaimana kinerja USU akan diketahui oleh pihak luar sehingga USU terbrand di mata orang luar.

    Solusinya ? ya jika mw cari rektor diadakan debat visi misi kandidat rektor secara terbuka dan fair.

  4. Salah urus?
    Mungkin benar!
    Lab dibiarkan hancur tak jelas, praktikum hanya kiasan semata karena banyak hanya terima data dari asistem lalu buat laporan.
    Atau minta uang lagi ke mahasiswa agar praktikum jalan, terpaksa deh si mahasiswa bayar lagi , dari pada telat praktikum semester berikutnya..

    Dosennya sibuk cari S2,S3 untuk naikkan jabatan di PNS tanpa peduli akan kualitas alumninya.

  5. saya gak sependapat, komentar diatas banyak bernada miring, sepertinya website ini dibuat tidak untuk menyejukkan tapi bikin gerah. Baru kali ini saya melihat alumni menjelekkan almamaternya. Padahal dosen TK USU sudah banyak yang PhD, berarti ini sudah jaminan kualitas mereka, anda tahukan bagaimana sulitnya memperoleh PhD? Kecuali yang honoris causa ini tergantung pada kondisi istimewa. Apalagi komentar Andi Matalata kayaknya seperti racist, memandang orang dari sukunya. USU telah banyak membuka jalan kepada semua suku untuk menjadi sukses tidak peduli apakah suku batak, aceh, karo, melayu, mandahiling, jawa, minang, nias, cina dan lainnya. Kalau ada satu suku yang banyak jadi dosen di suatu PT itu biasa saja. Dulu waktu teman saya kuliah di jerman, dosennya banyak orang jerman dia tdk komplain he.. he..peace kawan…peace..

  6. @Andi melatalata
    Jangan gitulah pakcik ! Omonganmu tak mengenakkan suku lain. Memangnya kau suku cadang?

  7. Menurut saya statemen seperti ini ” USU Universitas Salah Urus ” terus terang saya tidak setuju karena sebagai ibu asuh dan saya sebagai anak asuh yaang pernah menimba ilmu di perguruan tinggi ini tidak rela di tuding macam-macam apalagi tudingan seperti ini, saya khawatir tudingan ini datang dari sesama almamater berarti saaudara kandung dalam hal sesusuan ilmu pengetahuan dari induk ( USU ), kalau ini tejadi berarti ini anak yang durhaka tidak pernah menghargai jasa ibu asuh yang telah membesarkannya dan mendewasakan cara berpikir kita , harapan saya janganlah kiranya ada sesama almamater yang mengamini statement miring tersebut, walau bagaimanapun mutu Perguruan Tinggi ini seharusnya kita jaga dan kita semangati agar perkembangannya tambah pesat di kemudian hari dan bisa menjadi Perguruan tinggi yang mampu bersaing di tingkat global. dan alumni yang telah sukses di dunia kerja kiranya dapat menolong saudara-saudara yng belum beruntung dan kita harus bangga dengan USU walau bagaimanapun getirnya persaingan dalam memperebutkan posisi didalam dunia kerja. thanks

  8. Peace Bro n Sis,

    USU mau ditingkatkan agar lebih profesional? Ayo kita bikin Forum Alumni Menggugat…..dengan tujuan memperbaiki kinerja dan harapan akan USU.

    Sori, awak ini alumni FKM 98 tapi galau juga liat perkembangan almamater USU awak lah.

    Salam SEHAT,

    don_C (cansalony@litbang.depkes.go.id)

  9. Pertama tama mohon maaf.
    Saya bukan alumni USU, saya dari alumni PTN di Jabar. Sudah seharusnya ada peningkatan di USU atau diperguruan tinggi manapun seiring berjalannya waktu (mkn dosennya tdk demikian karena susahnya beasiswa luar negeri sejak krismon). Yg saya lihat di jawa (hususnya jabar), PT nya sangat gencar melakukan kerjasama dengan berbagai fihak dalam dan luar negeri untuk meningkatkan mutu pendidikan, fasilitas kampus dsbgnya. Tidak melulu menunggu dana dari pemerintah. Dan itu berjalan dengan baik. Di jawa barat staf pengajar dan pejabat kampusnya bukan cuma orang jabar, malah banyak bataknya tapi semua bekerjasama dengan baik. Nepotisme pasti ada dimana mana meskipun tidak kentara. Pastilah tidak benar USU tidak berkembang kerena didominasi suku tertentu.
    Thanks (sekali lg maaf)

  10. Secara keseluruhan kampus USU memang tidak lagi terawat, Saya yakin bukan tidak terurus, tetapi mungkin kebijakan rektorat tidak lagi bisa mengimbangi kebutuhan cost maintenance kampusnya. Benar bahwa ini membawa image yang dapat menurunkan akreditas usu secara keseluruhan. Kalau sudah begitu secepatnya dirilis saja usulan peace bron n sis untuk membuka forum tersebut. TANGAN DIATAS LEBIH BAIK DARI TANGAN DIBAWAH. Mana sumbangsihmu kawan ???

  11. Dengan rendahnya daya saing kualitas alimni usu dengan alumni tk lain, saya ingin membuat satu blog yang akan berisi info tentang apa2 yang wajib diketahui oleh mahasiswa tk usu. Blog ini hanya akan berisi informasi bagi mahasiswa atau alumni untuk dapat bersaqing dengan alumni tk univ yang lain. Sekarang saya bekerja didunia oil n gas yang sangat jarang disentuh oleh alumni tk usu dan memang sangat susah ditembuh alumni tk usu. Budaya tidak mau share ilmu bagi alumni dan mahasiswa tk usu harus dibuang dan bisa mencontoh alumni tk di jawa tdk takut jadi saingan jka ilmu dibagi. Ini merupakan pernyataan alumni tk di sumatera/bukam hanya tk uss. Ilmu itu mahal jadi kalau mau dibagi harus bayar. melalui blog yang akan saya buat nantinya saya berharap alumni tk usu nantinya tdk diasumsikan tidak ada di dunia tk.
    untuk alamat selanjutnya akan saya posting di blog ini dan mohon bantuan teman2 mahasiswa n alumni untuk turut membagi ilmunya tanpa bayaran.

  12. saya sudah membuat blog seperti yang saya sebutkan datas. shareteknikkimia.wordpress.com. Silahkan dikunjungi dan selamat berbagi

  13. muatan sara sangat kental di USU. Kenyataan ini mungkin bisa menyinggung beberapa mahasiswa/alumni/dosen TK-USU tetapi itulah kenyataannya. Dari pemilihan asisten dll dan terjadilah pengelompokan berdasarkan suku, agama, ras, iq, eq, kekayaan dll. Jika budaya SARA ini tetap dipelihara maka sangat disayangkan jika TK-USU akan tetap seperti sekarang, diasumsikan tidak ada oleh beberapa orang.

    Tidak semua budaya itu harus dilestarikan, biarlah budaya SARA di TK-USU menjadi kenangan saja dan jadi sejarah gelap yang harus segera ditutup.

    Jika Anda mengatakan tidak ada SARA di TK USU, inilah bukti bawah tahun 98 nyaris terjadi konflik antar agama di TK-USU yang mana hal ini dipicu oleh dosen TK-USU sendiri inisial KN yang nayris mengobarkan perang antara sayap kanan dan sayap kiri (istilah yang sering dipakai di TK-USU untuk menggolongkan sekelompok agama tertentu). Untung Saya tidak pake Sayap heheh

  14. Bung nn I think I knew who are you. good info yang anda berikan merupakan input buat semua pembaca khususnya alumni TK USU namun demikian yang anda katakan belum tentu benar khan ? perlu pembuktian…hehe

    khusus yang ini “Jika Anda mengatakan tidak ada SARA di TK USU, inilah bukti bawah tahun 98 nyaris terjadi konflik antar agama di TK-USU yang mana hal ini dipicu oleh dosen TK-USU sendiri inisial KN yang nayris mengobarkan perang antara sayap kanan dan sayap kiri (istilah yang sering dipakai di TK-USU untuk menggolongkan sekelompok agama tertentu). Untung Saya tidak pake Sayap heheh…”

    *. Apakah yang anda maksud terjadi peng-anak-emasan kepada mahasiswa yang islam dan peng-anak-tirikan kepada yang kristen, gitu ? atau seperti apa yang anda maksud ?

    *. Yang anda maksud dengan dosen TK USU berinisial KN apakah Ibu Kartini Noor Hafni ? atau siapa yang anda maksud ? biar pembaca tak salah-salah nebak, sebab kalau sudah jelas orangnya ada banyak teman-teman dosen ybs yang bisa memberikan nasehat kepadanya, ada banyak senior yang bisa memberi dia pencerahan. gitu..loh maksudnya.

    Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.

  15. jika pak sunardi mengatakan bukti tdk ada mungkin pura2 tidak tau kali ye

    Mengenai kasus tahun 98 bisa bapak tanya sama anak angkatan 98 yang langsung didepan kelas waktu mengajar mata kuliah dosen tersebut mengatakan langsung.

  16. kalau tdk lupa wahtu memberi mata kuliah PTK tahun 98 didepan mahasiswa baru

  17. selamat siang buat “nn” saya jadi simpati buat anda walaupun anda masih “bertopeng” yg saya tangkap dari bathin anda, anda care dan cinta TK USU ya nggak ?

    Dan apa yg anda rasakan dan pedulikan merupakan representatif/wakil dari apa yg dirasakan oleh hampir seluruh mantan mahasiswa tk usu saat ini, apapun backgroundnya karena kita (termasuk saya ya) setelah menjadi alumni TELAH BEBAS dari dikotomi sempit waktu mhsw dan menjadi pemikir yg lebih dewasa yaitu kepentingan almamater berada diatas kepentingan yg picik-picik itu, ya nggak ?

    Saya berharap Ibu Renita dan Pak Hendra membaca ini dan kalau beliau itu tak buka-buka web ini, saya minta tolong Ibu Lilis atau siapapun, tolong diberitahukan beliau agar meluangkan waktu utk baca input-input seperti ini. Masukan itu itu penting utk diketahui masalah dipakai atau tidak, itu persoalan lain.

    Buat pak/ibu “nn” tolong sampaikan terus apa yg anda ketahui masalah yg ada/terjadi di tk usu termasuk perilaku staf pengajar yg “tidak pada tempatnya” walaupun itu masih menurut anda sebab pembaca kan punya pemikiran sendiri-sendiri hehe ya nggak ?

    nama dosennya juga jgn pake inisial tapi sebutkan saja secara lengkap toh kalau menurut anda dia “kurang benar” itu masih versi anda atau masih praduga tak bersalah, caiaaa itu enaknya zaman sekarang semua serba transparan dan lintas dimensi makanya para beliau pejabat publik/termasuk dosen harus menjaga integritas dan moralitasnya masing-masing.

    aku TunGgu ya info dari kamu-kamu

    Wasalam
    Jabat TanGaN

    Sunardi P

  18. mohon maaf lupa ya kalau ada yang disampaikan ke saya kirim ke sunardiparluhutan@yahoo.com

  19. Buat teman-teman, abang-abang, kakak-kakak dan adik-adik semua.

    Salam manis dan salam sayang,

    Ini saya sendiri yang bernama Kartini Noor Hafni Nasution, statusnya benar masih sebagai staff pengajar Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara (USU). Saya sendiri sebagai pribadi yang tidak sempurna, perlu mengevaluasi diri sendiri, apakah sebenarnya benar, apa yang telah saya lakukan sehingga telah menimbulkan konflik SARA diantara sesama mahasiswa Teknik Kimia, Fakultas Teknik Kimia, USU? Mungkin saya tidak dapat mengevaluasi diri sendiri, karena sifat manusia itu mau selalu benar sendiri dan cenderung membela diri. Jadi saya mohon kepada seluruh teman-teman, kakak-kakak, abang-abang, adik-adik, baik yang sudah tamat atau yang masih kuliah tolong beri evaluasi kepada saya. Kalau hal itu memang telah saya lakukan tolong nasehati atau ingatkan saya agar hal itu tidak saya lakukan. Kalau memang hal itu pernah terjadi dan dirasakan itu sebagai suatu hal yang memicu konflik SARA diantara sesama mahasiswa TK USU, saya sendiri menjawab hal itu tidak dibenarkan dan tidak diperbolehkan dalam hal proses belajar mengajar atau ada di dalam pergaulan antar sesama mahasiswa. Mungkin kalau hal itu pernah terjadi, saya evaluasi itu adalah diluar kendali atau diluar kesadaran dari diri sendiri, diluar pikiran yang waras, mungkin itu terjadi karena berbagai faktor yang memicu, baik dari faktor internal ataupun dari eksternal. Jadi mungkin pada saat itu kita masih muda dan masih berdarah panas, mendengar isu ini-itu langsung marah, sehingga tidak memikirkan hal-hal atau efek-efek dibelakangnya. Mungkin pada saat itu saya adalah ibu Kartini Noor Hafni, sang pemarah yang tidak bisa berpikir secara rasio dan dewasa. Dosen bukan lah dewa dan malaikat yang selalu benar tindakan nya. Maka diperlukan adanya evaluasi diri sendiri dan saling mengevaluasi sesamanya, bukan saling menghujat satu sama lain. Yang saya lihat kelemahan pada kita adalah saling menghujat dan saling menyalahkan. Orang sudah sampai ke negeri seberang, kita ini masih berpikir diseputaran situ-situ saja. Jadi apa gunanya ada milis, ada yahoogroups, ada perkumpulan ini ada himpunan ini-itu, kalau toh tujuan nya kita hanya saling menghujat?. Marilah lapangkan dada untuk saling memperbaiki dan saling membantu sesama kita.

    Saya secara pribadi (maaf beribu maaf, ini pendapat pribadi lo) kalau mau dibilang apatis, yah hampir apatis juga melihat kondisi kampus. Tetapi apa mau dikata, itu adalah tempat saya dibesarkan, menimba ilmu. Dan sekarang memberi ilmu (walaupun ilmu yang diberikan hanya sedikit dibandingkan ilmu yang telah kita dapatkan di luar sana) dan juga tempat saya mencari nafkah. Jadi bagaimana? Apa dan siapa yang mau disalahkan? Dosen, fasilitas, sistem, situasi, mahasiswa, alumni, dekan, rektor atau pemerintah? Saya tidak tahu jawaban nya.

    Demikian komentar dari saya dan saya mohon maaf kalau tidak berkenan dan dirasa sebagai pembelaan diri.

    Salam hangat selalu dari saya,
    Kartini Noor Hafni Nasution – 021- 7990365
    0817 098 555 7/ 0812 699 45 19
    Jl. Siaga I C No. 12 F RT 004 RW 03, Pejaten Barat
    Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

  20. Permisiiiii
    “Bung nn”
    Saya rasa ini bukan masalah “SARA”. Kalo masalah 98 terjadi SARA itu salah BESAR bung. Asal muasalnya bukan SARA tapi “CAMP” kenapa, karena mayoritas MUSLIM kebanyakan tidak setuju dengan tindakan dan perilaku Abang-abang dan kakak seniornya. Sayang mengalaminya Makanya saya berani berbicara.
    1. Siapa yang mau di tendang, dipukul,ditampar dan disuruh minum tuak bahkan judi itu masih di sekitar kampus.
    2. Saya termasuk korban ditampar Bung nn, sampai sekarang saya masih ingat siapa yang menampar saya
    3. Siapa yang mau masuk kubangan yang di kencingin.
    4. Siapa yang mau makan permen dari mulut ke mulut (ini katanya suatu hal yang sepele)
    5. Apa yang terlintas di pikiran bung nn bila camp, apa sanggup menahan abang2 yang mabuk2an????
    Nach disini mayoritas muslim tidak setuju dengan tindakan ini dan ini bukan hanya muslim saja tapi segelintir kristian pun juga ada yang tidak setuju dengan perilaku seOrang mahasiswa yang meng-IDAM2kan keakabran dgn bertindak seperti ini.
    Kalo hal ini di tujukan kepada Kartini Nur Hafni yang menimbulkan SARA itu salah sekali lagi SALAH BESAR..Ini masalah “CAMP” bung, masalah AKLAK. Dan saya Setuju dgn Bung Sunardi

    SALAM,
    Chadijah

  21. dari kuliah sampe tamat, udah ninggalin kampus tetap aja ribuuuuuuuuuuuuuut….
    anak2 tekim emang suka ribut yang gak jelas….
    kalo emang gak mau diributin gak usah diomongin
    sara emang ada di tk usu tapi kan itu tergantung orangnya….
    aku anak angkatan 00, wahyu, ibnu, taufik, teman akrab ku…. (guys kangen banget tidur bareng2 di rumah gubuk orangtuaku, ngobrol bsreng ibuku almh)…..
    tapi dulu aku juga berteman ama gunawan (orang cina) sekarang edward sinaga teman akrab ku….
    so jangan kelagi terus lah
    udah tua…. inget umur
    kita gak akan pernah merasa mempunyai bila kita belum kehilangan….
    so jangan sampai kita kehilangan milis tekim usu yang baru aja ada ini….
    SAYA BANGGA JADI ANAK TEKIM USU WALAUPUN KALIAN ENGGAK!!!!!
    DISANA AKU PUNYA BANYAK KENANGAN TAK TERLUPAKAN YANG MEMBENTUK AKU SEPERTI AKU SEKARANG INI
    HIDUP TEKNIK KIMIA USU

  22. semua yg di comment disini adalah agar ada perbaikan dikemudian hari. Jika memang ingin tetap seperti dulu yo wess bye bye blog TK USU. Tolong budaya lamanya dipertahankan dan diwariskan ke anak-cucu/mahasiswa baru n alumni baru. Budaya itu harus dijaga, apalagimkalau jelek so sangat mudah melestarikannya jadi agar jgn smpai hilang budaya SARA nya …….

    Kenyataan itu kadang menyakitkan tetapi jika kita tdk mau menerima kenyataan sekarang dan berusaha memperbaiki ke depan… tidak akan ada perbaikan dikemudian hari.

    Saatnya saya meninggalkan blog ini. BYE sorry wrote the hardest word in the past

  23. Ada kejadian di tahun 1999 di salah satu universitas terkemuka di Jawa Barat, salah satu Perguruan tinggi paling top di nusantara ini.

    Waktu itu ada seorang asisten dosen orang batak, dia kristen marganya Sihite, laki laki. Sangat cerdas, may be genius. Dari semester semester awal sudah asisten dosen. Dia lulus sebelum 4 tahun dan oleh profesornya dia diusulkan jadi dosen di PT tersebut. Apa yang terjadi? Terjadi perpecahan diantara dosen yg ahirnya merembet ke mahasiswa. Awalnya info yg beredar karena dia kristen sebagian dosen mau menjegal. Ahirnya merembet ke mana mana, isu terahir, dia dijegal karena dia orang batak.

    Apa yg terjadi? seluruh mahasiswa yang yg berasal dari sumut khususnya batak, tidak perduli apa marganya dan agamanya bergabung menuntut kejelasan akan semua informasi yg sudah beredar tentang penjegalan abang sihite menjadi dosen (note: mahasiswa sumut adalah dominan ke 5). Terjadi ketegangan, dengan gaya militan mahasiswa batak menantang semua fihak untuk mengklarifikasi masalah ini. Waktu itu tantangannya bersifat “open”. Tantangan adu fisik? …hayo…debat di forum?…hayo… apa saja. Musuhnya di sini adalah segelintir orang yg mengaku paling benar diagamnya dan sok militan dan dosen serta mahasiswa dari suku tertentu yg tidak mau ada orang batak kristen (meskipun genius) menjadi dosen baru. Padahal universitas ini didirikan dengan jerih payah banyak profesor batak yg fenomenal di bidangnya.

    ahirnya terjadi dialog antara semua fihak yg merasa harus terlibat. Keputusannya bang Sihite boleh tes jadi dosen, kalau memang lulus dia akan diangkat. Sayangnya si abang ini menyatakan tidak akan ikut test demi kebaikan bersama (sekarang dia sudah Phd dan dosen di salah satu universitas di jawa)

    Kalau kita ada di dalam komunitas yg lebih beragam dan dari latar belakang yg lebih majemuk ternyata sebagai orang batak dapat bersatu tanpa harus melihat apa agamanya atau marganya.

    Thanks

  24. Apa pun kata sebagian orang dalam dan luar USU tentang USU, saya tetap bangga menjadi bagian dari keluarga besar alumni USU Medan. Jika ada yang memelesetkan kepanjangan USUsebagai Universitas Salah Urus, lha saya pun bisa memelesetkannya dengan predikat positif “Universitas Serba Unggul”. Paradigma berfikir kita sepatutnya berkembang. Jangan terus-terusan terbelengge oleh imej masa lalu yang dihembuskan segelintir orang yang kecewa dengan USU. Kekecewaan diri mereka bisa saja bersumber dari kekurangbecusan manajemen rektorat USU, tetapi kekecewaan tersebut bisa juga bersumber dari dalam diri mereka sendiri. Mereka saja yang nggak becus selama menimba ilmu di USU. Kalau karakter mereka jeblok sebagai mahasiswa, sebaik apapun pola belajar mengajar dan fasilitas kampus (perpustakaan dll), ya tetap saja mereka jadi medioker. Setahu saya, anak-anak USU Medan (alumni) umumnya adalah sosok pejuang mandiri yang hard working. Soal kepintaran mah relatif dan tak kalah dengan alumni dari PTN-PTN mapan di Jawa. Apa yang perlu terus menerus dikembangkan di berbagai fakultas dan school di lingkungan USU adalah budaya akademik. Dalam hal ini, USU punya keunggulan nasional dan regional yang mungkin tak banyak PTN/PTS mapan di seluruh Indonesia miliki, yakni perpustakaan yang hebat dan oke banget. Kalau anda kebetulan beruntung pernah kuliah di univ kelas dunia, seperti the University of Queensland, betapa USU Library nggak kalah dengan UQ Cybrary (begitu anak-anak UQ menyebut perpustakaan kampusnya yang oke banget). USU Library pun sejatinya sudah menjadi dan terus dikembangkan ke arah Cybrary dalam arti yang sesungguhnya. Apa yang perlu terus menerus dikembangkan manajemen USU mulai dari tingkat terbawah hingga teratas adalah sinergi. Jika Univ Indonesia saja punya tim webometrics untuk memperbaiki peringkat kelas UI di dunia, mengapa USU tidak mengikuti langkah tersebut supaya peringkat USU di tingkat regional dan internasional juga semakin baik. USU tetap diperhitungkan di tingkat nasional sebagai salah satu dari 10 univ terbaik di Tanah Air. Dan USU pun masuk daftar 100 univ terbaik di tingkat Asia Tenggara (webometrics). So guys, open your eyes, hearts and minds when looking at the University of North Sumatra (USU).
    Tabik dari Anak Medan.

  25. Apa pun kata sebagian orang dalam dan luar USU tentang USU, saya tetap bangga menjadi bagian dari keluarga besar alumni USU Medan !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: